Dulu, Merkuri Justru Menjadi ‘Kesayangan’ Dokter Gigi

Sejak awal abad ke-20 hingga ratusan tahun kemudian,dokter gigi menggunakan penambal gigi yang disebut ‘amalgam’ untuk menambal gigi pasiennya. Amalgam menjadi  begitu populer karena mempunyai ketahanan fraktur, aus, dan daya tahan yang tinggi. Sehingga sekali menembel, tidak perlu menembel lagi. Amalgam semakin populer dikalangan praktisi yang kurang terpelajar. Karena harganya yang murah, membuat mereka yang ingin harga murah kualitas oke, memilih amalgam sebagai alternatifnya. Disamping amalgam mudah dilakukan.

Namun yang paling menohok adalah, amalgam yang dikenal sebagai gigi perak ini sebenarnya hanya mengandung sekitar 35% perak, 13% timah, sejumlah kecil perungu, seng. Propirsi yang apling besar justru merkurinya, yakni sebesar 50%.

Bicara soal komposisi amalgam, Murray Vimy  seorang professor dari Departemen Kedokteran Universitas Calgary, Kanda mengatakan bahwa amalgam rata-rata memiliki massa merkuri sekitar 750-1000 mg dan seharusnya lebih pantas disebut sebagai ‘tambal merkuri’.

Merkuri

Merkuri dan Otak

Pada kurun waktu digunakannya, amalgam memiliki banyak sekali pro dan kontra. Tahun 1920-an koontroversi amalgam mengemuka setelah profesor kimi dari Jerman Dr. Alferd Stock mempublikasikan artikel dan buletin yang membidik tambal gigi. Tahun 1935, berdasarkan riset Stok membuktikan bahwa sebagian uap merkuri dari amalgam masuk ke hidung, diserap lendir, dan mengalir cepat menuju otak. Begitu masuk ke otak, merkuri beroksidasi ke dalam bentuk elementalnya.

Berdasarkan penelitian, uap merkuri secara konstan keluar dari tambal gigi, terlebih jika kita melakukan aktivitas seperti mengunyah, sikat gigi, atau karena perubahan temperatur pada gigi seperti meminum cairan yang sifatnya panas. Setiap kali seseorang (dengan tambal amalgam) melakukan aktivitas tersbeut, kebocoran dan pengelupasan merkuri yang masuk ke dalam tubuh semakin memuncak.

Berdasarkan fakta ilmiah dan referensi, ada sekitar 13 dampak biologis dari merkuri yang kesemuanya bersifat membahayakan.

Amalgam, Sekarang….

Kini, popularitas amalgam telah menurun mengikuti data ilmiah tentang bahaya penggunaan merkuri dalam amalgam. Disisi lain, dari segi estetika, amalagam dianggap  kurang estetik. Orang-orang cenderung menyukai tambal gigi yang selaras degan warna giginya. Ditambah pernyataan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) tentang bahaya merkuri dan perjanjian minamata membuat para praktisi semakin bergidik untuk menggunakannya sebagai tambal gigi. Apalagi beberapa pubilkasi ilmiah menyebut bahwa bahaya amalgam tidak hanya menyerang pasien, tapi juga dokter yang memasangkannya.

Kini, amalgam perlahan telah ditinggalkan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *